You are here: News Release Articles Bisnis dalam Perspektif Budaya Jawa

Bisnis dalam Perspektif Budaya Jawa

E-mail Print

Diambil dari buku "Sukses Berkomunikasi dengan Manajemen Citra", karangan DR. Widodo Muktiyo, SE, M.Comm

Tema ini menarik untuk diangkat karena yang pertama, selama ini banyak pelaku bisnis yang bangga jika usahanya mengacu pada gaya Amerika atau Eropa seolah-olah budaya mereka cocok dengan kita. Yang kedua, kita sebenarnya punya budaya yang tidak kalah baiknya dengan budaya negara maju. Dua hal ini yang menjadi pertimbangan ketika kita mengelola kegiatan usaha atau kegiatan sosial. Harus kita pikirkan akan mengambil basis budaya yang mana?

Budaya Jawa Berbasis Citra

Dengan mengacu pendekatan Manajemen Citra, maka basis yang kita kembangkan sebenarnya adalah dari Budaya Jawa. Sebagaimana diungkapkan oleh Franz Magnis Suseno dalam Etika Jawa (2001: 1), keunikan nilai-nilai dalam Budaya Jawa adalah sifat plastis yang dimilikinya tanpa pengurangan dari nilai otentitas.

Misalkan dalam kegiatan marketing kita akan kenal konsep ”menang tanpa ngasorake, nglurug tanpa bolo”. Ini sebenarnya filosofi dalam marketing. Artinya kita seringkali lupa dengan nilai-nilai luhur budaya kita, yang sebenarnya bisa kita kembangkan dan sosialisasikan dalam institusi usaha termasuk spirit kerja kita, misalkan sebagai profesional manager.

Seperti misalnya dalam dunia image ada konsep mikul dhuwur, mendhem jero. Itu sebenarnya nilai-nilai dimana image adalah segala-galanya yang harus dipertahankan. Kemudian dalam dunia services kita kenal filosofi Semar. Ini merupakan filosofi wayang yang luar biasa. Dia bisa men-service atasan sekaligus disegani oleh lawan-lawannya. Dia tidak tinggi hati meskipun memiliki senjata yang luar biasa. Sebagai dewa yang powerfull, tetap punya nilai-nilai service yang sangat bagus (Soenarko, Menggali Filsafat dan Budaya Jawa, 2007).

Ini sebenarnya contoh bagus yang bisa kita gunakan dalam menerapkan nilai-nilai dalam institusi yang bersifat lokal yang kita ambil dari diri kita sendiri. Sebab ada juga nilai-nilai yang bersifat negatif dan harus dipantang, misalkan adigang-adigung-adiguno yang merupakan nilai-nilai kesombongan.

Adigang dimisalkan sebagai kijang yang sombong karena bisa berlari cepat, adigung ibarat seekor gajah karena merasa kuat, atau adiguno dianalogikan sebagai ular yang mematikan karena kekuatan racunnya. Nah, itu semua merupakan nilai-nilai yang harus kita jauhkan dari SDM yang akan di-manage dalam organisasi.

Konsumsi Berperspektif Barat

Ketika kita mau membeli barang, biasanya berorientasi pada Barat, misalnya merk atau modelnya. Apakah semua ini memang yang dikehendaki produsen atau karena keinginan konsumen?

Trend perdagangan atau kapitalisasi saat ini selalu berubah-ubah. Zaman dulu yang dijadikan komoditas adalah budaya mistik. Tapi sekarang justru yang berbau agama, semisal Rahasia Illahi, Taubat dan masih banyak judul sinetron lainnya yang kita jumpai di televisi.

Sering kita menjadikan nilai-nilai yang dulunya baik akhirnya saat ini konotasinya jelek. Misalkan keris, selalu dikonotasikan dengan aktivitas perdukunan, padahal filosofinya tidak seperti itu. Bahkan keris di luar negeri sudah tidak dianggap sebagai barang dari Indonesia lagi, meskipun sekarang Unesco mengakui nilai budaya adiluhung dari kita yaitu wayang dan keris itu sendiri.

Lepas dari itu, sebetulnya bagaimana kita mau mencoba pede (percaya diri) dengan nilai-nilai kita sendiri. Kita ini justru saat reformasi, malah berkembang asumsi apa-apa yang dari kita jelek dan segala sesuatu dari orang lain yang bagus. Padahal sebetulnya tidak begitu. Ini yang perlu kita tinjau kembali, sudahkah nilai-nilai yang ada pada diri kita bisa diimplementasikan dan menjadi nilai tambah dalam bisnis kita.

Aplikasi di Bisnis

Bagaimana Pendekatan budaya Jawa dari sisi bagaimana kita mendekati client, yaitu witing tresno jalaran soko kulino, bukan jalaran soko ra ono liyo?

Itu intinya bagaimana kita mendekati customer jangan sampai kita punya prinsip ”sekali tidak kena, ya sudahlah!”. Sebetulnya kulino itu punya nilai bahwa harus saling mengenal, ada intensitas yang cukup baik dengan services yang baik. Ini mestinya yang harus dimainkan oleh orang yang akan menjual produk.

Akhir-akhir ini ada yang komplain, menyayangkan bahwa Budaya Jawa mulai berkurang nilai-nilainya, bagaimana ini?

Justru inilah yang sering ditemui, kita bangga dengan film Zorro, King-kong dan lain sebagainya, sementara kita lupa dengan Hanoman dan Janoko. Sebenarnya kita telah terbawa oleh arus globalisasi yang menjadikan ada stereotype, seolah-olah yang hebat adalah orang kulit putih, sementara kulit coklat itu jelek. Kemudian yang bagus itu rambut pirang, sementara yang rambut hitam jelek. Ini adalah stereotip yang salah kaprah (Baca misalnya, Andrik Purwasito, Komunikasi Multikultural, 2003: 228).

Tetapi hal ini menjadi tantangan dalam dunia bisnis. Mudah-mudahan anda yang bergelut di dunia usaha, atau teman-teman profesional tidak rendah diri seandainya culture organisasi yang dikembangkan adalah budaya Jawa.

Jadi budaya ini bisa menjadi rambu-rambu untuk mengelola bisnis secara profesional. Misalkan bagaimana dalam hal persrawungan. Jangan dikonotasikan sebagai hal yang bersifat sosial saja semisal di kampung, kotor dalam arti sosial. Persrawungan bisa berarti macam-macam, misalkan ada kata-kata: ojo cedhak kebo gupak, maksudnya jangan dekat-dekat dengan kerbau yang kotor, artinya kalau ada teman yang bisnisnya tidak beres ya.. jangan deket-deket dengannya karena akan bisa terkena imbasnya.

Ini merupakan filosofi dari budaya kita yang sudah ada dan kita bisa implementasikan. Ada contoh lagi ungkapan ojo cedhak kirik gudiken, jangan dekat dengan anjing yang kudisan. Artinya dalam bergaul kita harus betul-betul memilih. Kalau kita mau berbisnis secara profesional, sebaiknya jangan bermain-main dengan yang tidak profesional. Kalau kita mau mencari customer yang baik, jangan mencari customer yang tidak jelas dan lain sebagainya.

Ini berarti kita harus benar-benar waspada?

Ya. Ada nilai-nilai pesrawungan yang harus kita pegang, baik kita sebagai pekerja sosial maupun politik sekalipun. Tetapi ada juga nilai-nilai lain misalkan ojo nggege mongso. Sebenarnya kita berbicara mengenai forecasting. Dalam ekonomi kita mengenal istilah forecasting, misalkan tahun depan keuntungan akan naik berapa? tidak mungkin dalam situasi dan kondisi seperti saat ini, dimana biaya-biaya naik, daya beli rendah, pegawai minta gaji naik kemudian menginginkan keuntungan sebesar 200%.  Nah, inikan ”nggege mongso” dalam arti dimensi derajat, semat (=materi), dimensi pamrih, meri misalkan: ”dia bisa, kok saya tidak bisa?”. Jadi ini bisa kita olah secara sistematis dan bisa diimplementasikan dalam perilaku ekonomi atau perilaku dunia usaha yang lainnya.

Banyak tokoh pewayangan yang bisa kita ambil filosofinya dan bisa dipergunakan dalam keseharian kita bahkan di bisnis dan perpolitikan?

Ya, kita sering mengambil pandangan dari sisi perspektif metodologi, yang merupakan pandangan kuantitatif yang bersifat generalisasi dan dianggap berlaku secara umum. Misalkan ini kajian dari Amerika, kemudian muncul teori yang digeneralisaskan seolah-olah berlaku umum. Padahal saat ini ada pendekatan kualitatif yang terdapat nilai-nilai unik. Kita tidak bisa menganggap bahwa nilai-nilai yang berlaku di sana bisa berlaku di sini. Banyak faktor-faktor yang menyebabkannya sulit untuk diberlakukan itu.

Ini yang perlu kita gali. Meskipun dalam dunia kerja aspek kuantitatif itu penting, tetapi dalam hal penanaman nilai-nilai aspek-aspek kualitatif, yang berbau nilai-nilai ini yang penting, sehingga yang sering kita temui dalam keseharian adalah bahasa ojo rumongso biso tapi biso romongso. Artinya semakin berisi maka kita semakin tunduk.  Dalam bisnis usaha kita makin eksis, maka kita harus makin hati-hati, bukan malah makin arogan. Kalau makin arogan akan banyak kompetitor yang menembak dan menyikut kita.

Dalam menjalankan bisnis ketika menggunakan gaya bahasa Jawa, kadang-kadang malah lebih mengena. Berhubungan jadi lebih akrab, meskipun lingkungan tidak semuanya orang Jawa, bagaimana ini?

Memang dalam perspektif bisnis kita sering berorientasi pada Barat, misalkan ajining diri ono ing lathi, bahwa kepribadian kita ini ada pada mulut yaitu ucapan, dan tergantung pada lidah, misalkan lunyu ilate koyo welut yang artinya lidahnya licin, omongannya tidak bisa dipegang. Ada istilah serupa juga yaitu isuk dhele sore tempe. Itu nilai-nilai yang mestinya tidak kita lakukan dalam berbisnis, karena merupakan nilai-nilai ketidakjujuran yang menyalahi perilaku berbisnis.

Kemudian dari sisi yang lain, mengapa perusahaan-perusahaan banyak memperhatikan seragam, atribut-atribut fisik? karena memang ajining rogo ono ing busono. Jadi fisiknya memang terlihat dari busana atau tampilan, sehingga kita harus bisa mengkombinasikan antara ajining rogo ono ing busono dan ajining diri ono ing lathi. Ini harus sinkron, secara fisik bagus, setelah masuk ke dalam maka pelayanan atau services-nya juga terstandar secara bagus. Misalkan: Selamat pagi, apa yang bisa saya bantu? Selama ini seolah-olah semua itu tidak ada.

Khazanah dalam bahasa Jawa sangat banyak sekali. Seperti misalkan di Solo, Mangkunegoro I (Sambernyowo): ”tiji tibeh melu handarbeni, melu hangkrukebi, mulat sariro hangroso wani.” Atau Mangkunegoro IV dengan ”mulangreh, bowo budi bowo laksono” Termasuk PB VI. Bagaimana pengaruhnya pada masyarakat di tengah lunturnya budaya saat ini?

Saya melihat memang banyak nilai-nilai yang kita sepelekan padahal itu ada di sekeliling kita. Misalkan profesionalitas, yaitu kita selalu berpikir ke depan dengan pola pikir yang betul-betul bisa dipertanggungJawabkan. Dalam budaya kita ada istilah metani oloning liyan, artinya kalau kita ingin profesional jangan melihat samping kanan atau samping kiri untuk melihat salah-salahnya mereka agar kemudian kita terlihat baik.  Sehingga kita bisa tahu apa nilai-nilai yang menjadi pantangan kita. Misalkan lagi ada gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi semut di seberang lautan tampak. Kita seringkali melakukan itu, istilahnya nyatur orang lain. Ketika kita hanya melihat kesalahan orang lain, maka kita berarti tidak memahami Manajemen Citra. Bahwa citra itu milik orang lain. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya baik padahal orang lain mengatakan saya tidak baik. Seringkali kita hanya metani oloning liyan, kita merasa baik karena kita merasa tidak dipetani padahal kita pasti juga dipetani oleh orang lain.  Juga ada nilai-nilai yang lain, misalkan wong iku ora iso ngiloni githoke dewe. Ini yang perlu kita tanamkan pada diri kita jangan sampai merasa tahu tentang diri kita sendiri.  Karena esensinya, kita tidak bisa ngiloni githoke dewe, sebetulnya yang menilai kita adalah pihak lain, entah itu atasan atau teman kerja bahkan bawahan. Ini juga yang perlu ditanamkan pada profesional-profesional dalam dunia usahanya.

Bagaimana jika nilai-nilai tadi diterapkan pada lingkup perusahaan?

Misalkan mengenai leadership, dimana seorang pemimpin bisa mengendalikan bawahannya dan bawahannya memiliki kepatuhan pada atasannya. Ada satu nilai misalkan anak polah bopo kepradah. Itu tidak selalu hanya antara ayah dan anak. Bisa juga antara pemimpin dan anak buahnya. Bagaimana jika anak buahnya salah, pemimpinnya yang bertanggungJawab. Hubungan yang baik antara anak polah bopo kepradah ini harus dijamin dengan nilai profesional, tidak hanya ngrasani oloning liyan, bahkan dalam konteks tertentu terkait esprit de corps kita harus gunakan juga mikul duwur mendhem jero. Bagaimana kita bisa memperbaiki yang jelek dari dalam, kemudian ketika keluar betul-betul kompak (Lihat, Widodo Muktiyo, Menjadi Profesional dan Komunikatif di Kantor, 2005: 304-306).

Secara kultural kita memang menjadi sangat familiar jika menggunakan bahasa lokal. Tidak sekedar di Jawa, bahkan di Sunda pun akan berlaku hal yang sama. Jadi bahasa itu merupakan ekspresi dari personalitas kita, dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan kultur kita maka akan memudahkan, sehingga ada step ahead, atau selangkah lebih maju. Ada satu sugesti bahwa ini wonge dhewe (teman sendiri). Tapi berbeda jika misalkan kita bekerja di penanaman modal asing, bisa dilihat sebagai isu-isu kedaerahan. Artinya kita harus betul-betul bisa menempatkan diri secara lebih baik.

Bagaimana dengan segmen Manajemen Citra, apakah untuk perusahaan atau untuk budaya tentang ke-Jawa-an? Kemudian bagaimana menghadapi customer yang tidak konsisten?

Selama ini yang selalu kita diskusikan selalu mengambil nilai-nilai dari barat. Kita mencoba sejauhmana dalam kepemimpinan kita memiliki nilai-nilai Jawa, dalam sisi promotion kita punya nilai, dalam team building kita juga punya. Kita hanya mewacanakan sejauhmana ada kesadaran dalam diri, bahwa kita memiliki nilai yang bisa kita kembangkan.

Menyangkut tentang masalah customer, itu adalah tentang brand/merek. Mungkin dengan memberikan service yang lebih pada customer, sekarang ini mungkin tidak mendapatkan apa-apa, tetapi percayalah di dalam dunia usaha itu ada efek suistainability, efek berkesinambungan. Misalkan saja terkait nilai ajining diri ono ing lathi, kita jadi tahu ”Oo..customer yang ini ternyata nakal”. Saya kira tidak jadi masalah, kita tetap menjaga sikap dan ucapan kita yang sudah baik yang kita jaga juga secara konsekuen. Bagaimana kita menghargai diri dengan ajining diri ono ing lathi. Misalkan kita gunakan nilai ojo rumongso biso tapi biso rumongso, maka saya yakin akan ada banyak simbol-simbol yang akan diinternalisasi oleh customer tadi. Misalkan diucapkan, ”Terimakasih, silahkan nanti berkunjung kembali ke sini. Kami masih membuka kalau ada kebutuhan lagi.” Nah, itu istilah Jawanya dipangku. Mudah-mudahan bisa balik dan akan menghasilkan keuntungan/benefit di masa yang akan datang.

Menjadi pemimpin dalam satu perusahaan dengan nilai-nilai budaya yang jelas mestinya enak, hanya kadang-kadang di sekitar kita ada yang agak nakal dengan mengetes kita, apakah kita harus nrimo atau bagaimana?

Kalau kita berbicara leadership kita ingat ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Kalau di depan menjadi lokomotif, di tengah menjadi motivator dan di belakang menjadi pendorong. Dalam dunia ekonomi jangan melihat jangka pendek saja, tapi lihatlah jangka panjang. Bagaimana citra kita dapat dikelola dengan baik. Tidak mungkin kita menjamin citra kita akan baik terus. Jika kita lengah sedikit saja sebagai contoh menyanggupi untuk memperbaiki sesuatu barang, kemudian ternyata barang tersebut tetap rusak dan alasan yang diberikan tidak mutu, maka yang terjadi orang lain akan mempersepsi secara berbeda. Dan itu hak orang lain dalam menilai, sehingga jika kita betul-betul tidak bisa memperbaiki lantas bagaimana? Di sinilah pentingnya nilai andhap asor, lembah manah yang mana kita betul-betul menunjukkan bahwa kita memohon maaf, dengan segala kekurangannya sehingga tidak bisa mengerjakan. Pihak lain akhirnya akan memahami, bahwa kita sudah berusaha.

Saya kira nilai-nilai seperti itu banyak ditemui dalam organisasi bisnis, dan seringkali kita membayangkan budaya Jawa itu adalah tidak disiplin. Itu hal yang keliru, dan sering dijadikan plesetan. Padahal kedisiplinan itu sudah merupakan nilai baku, hanya caranya saja yang kita perlu mengedepankan nilai-nilai tadi sehingga akan lebih baik.

Seringkali orang Jawa ketika di Kota Besar (Jakarta) menjadi sakit hati, misalnya ketika disampaikan insyaallah, maka di Jawab ”Saya tidak mau insyaallah, bisa atau tidak !”. Nah, ini kan kebangeten, karena asosiasinya orang Solo atau Jogja itu selalu jam karet. Jadi image secara makro menjadi tanggung jawab kita. Bahwa dengan nilai-nilai yang bagus kita pun bisa menjadi profesional. Jangan sampai ketika ada undangan jam 9 datangnya setelah jam 11 misalkan. Nah, hal seperti itu yang bisa menunjukkan hanya kita sendiri. Misalkan sebuah perusahaan mengembangankan nilai budaya Jawa apakah berarti nilai tolerannya habis-habisan. Belum tentu. Sanksi harus tetap ada.

Ketika kita ingin menerapkan nilai-budaya, apakah kita perlu tahu bagaimana menempatkan diri kita untuk menggunakan nilai-nilai tadi?

Mari kita bersama-sama, tantangannya adalah bagaimana secara nasional bahkan internasional kita menggunakan nilai-nilai positif asli budaya kita. Artinya dalam berbisnis justru orang-orang yang bisa menunjukkan andhap asor, lembah manah itu yang dipercaya. Pada saat kita ada kegiatan di Solo, bagaimana kita bisa menunjukkan kedisiplinan waktu, bagaimana kita dalam menunjukkan disiplin kualitas. Ini yang menjadi tantangan kita. Siapapun akan menilai ketika kita menjalankan nilai-nilai tadi. Tidak sekedar klise, sebetulnya dalam nilai-nilai hidup kita ada banyak simbol-simbol budaya. Misalkan dalam hal atribut, kenapa blangkon itu di belakang ada tonjolannya, atau keris juga bisa dianalisis untuk penggunaan di Solo atau di Jogja. Kita kira tidak ada maknanya padahal punya makna. Keris ini sendiri telah diakui oleh Unesco, artinya masyarakat dunia internasional sudah mengakui budaya adiluhung ini, mengapa kita tidak kemudian bersegera menggunakannya jangan-jangan nanti malah di patenkan oleh orang luar. Nah, kita tidak mendapat kebanggaan atau apa-apa.


Links Partner