You are here: News Release Articles Pensiun Dini

Pensiun Dini

E-mail Print

Oleh DR. Widodo Muktiyo, SE, M.Comm (Kepala Humas UNS Solo & Expert CES 'Citra Emas')

ALTERNATIF PENSIUN DINI

Kata pensiun ditanggapi secara beragam oleh para pegawai. Ada yang menganggapnya sebagai momok yang sangat ditakuti. Tapi ada juga yang justru menantikan waktu pensiun untuk segera istirahat dan menyongsong hari tua bersama anak cucunya yang lucu-lucu. Bahkan ada pegawai yang lebih memilih pensiun lebih dini dengan berbagai alasan. Beberapa permasalahan tentang pensiun dini akan kita bahas di sini.

 

Bagaimana agar ketika memasuki usia pensiun, uang tabungan kita bisa mencukupi kehidupan kita sampai mati?

Hal pertama yang perlu kita perhatikan dalam bekerja, adalah pengelompokan usia kerja, ada usia produktif, usia yang sudah matang dan usia penurunan (decline). Kita sering tidak memperhitungkan bahwa pada usia produktif, semestinya ada hasil yang kita terima secara maksimal. Yang banyak terjadi saat ini adalah saat usia produktif kita justru tidak bisa optimal dalam hal pendapatan kita, tidak bisa saving dan tidak bisa menanamkan investasi jangka panjang. Dan saat usia sudah 50 ke atas, kita baru sadar bahwa anak kita sudah kuliah dan membutuhkan biaya yang cukup banyak. Pegawai negeri yang umurnya sudah 55 dan waktunya pensiun, baru muncul kecemasan betapa pesangon pegawai negeri sangat sedikit. Juga pegawai swasta akan menghadapi persoalan apakah sudah siap untuk menghadapi sesuatu yang baru di saat pensiun.

Pensiun itu bukan sebuah titik akhir dari perjalanan karier manusia. Pensiun merupakan kebijakan dari institusional untuk memutus kontrak dengan SDM. Jarang sekali pensiun dimaknai dengan SDM yang memutus hubungan kerja dengan institusi, sehingga pensiun identik dengan usia yang sudah tua. Bahkan di kalangan militer atau kepolisian, mereka yang pangkatnya masih di bawah akan pensiun pada usia 50 tahun, padahal stamina mereka masih bagus. Yang kita lihat bukanlah proses anti klimaks, sehingga orang yang sudah pensiun dilihat menjadi sosok tak berdaya. Karena pada saat bekerja, pendekatan kita dalam berhubungan, berinteraksi, hanya pendekatan kekuasaan dan normatif bukan pendekatan prestasi. Hal ini membuat seseorang yang pensiun merasa habis, nothing (tidak punya apa-apa). Bagi pegawai yang belum pensiun, tunjukkan bahwa kita besar bukan karena kekuasaan, tetapi kebesaran kita berdasarkan kemampuan yang kita miliki. Bagi birokrat-pun sebaiknya mempunyai jiwa enterpreunership. Dimanapun kita berada tetap mempunyai manfaat bagi orang lain yang sekaligus juga menguntungkan kita.

Persoalannya adalah bagaimana merubah cara pandang yang lama bahwa pensiun merupakan sesuatu yang mematikan. Kita harus memandang bahwa pensiun bukan akhir perjalanan. Pensiun adalah hak dari institusi dan hak kita sebagai pegawai. Jadi bukan berarti jika sudah pensiun maka dominasi ekonomi berubah menjadi dominasi spiritual seolah-olah kita tinggal menunggu saat kematian datang. Memang jika tidak kuat secara fisik, orang yang pensiun mengalami post power syndrom sehingga sering mengeluh dan sakit-sakitan. Jika kita bisa mengolah citra diri, maka masa pensiun dapat kita rencanakan. Dan setelah itu kita tinggal menunggu apa yang akan terjadi kemudian (what’s next).

Pensiun sebetulnya bukan sebuah petaka, tapi sebuah berkah yang memang telah direncana. Di awal kerja, kita perlu perhitungan, misalnya kita bekerja 15 tahun dan 10 tahun lagi kita akan minta pensiun. Tetapi fenomena umum yang terjadi  saat ini, ada beberapa bank pemerintah yang memensiunkan dini pegawainya. Ini memunculkan anggapan seolah-olah yang pensiun dini itu jelek, tidak terpakai perusahaan dan kinerjanya tidak bagus. Padahal kita bisa katakan bahwa pensiun itu bagus karena kita tidak lagi bekerja pada orang, tetapi kita justru mempekerjakan orang. Kita mempunyai kegiatan usaha baru yang sudah disiapkan sebelumnya.

Beberapa keuntungan pensiun dini di antaranya yang pertama, kita sudah mempunyai investasi pengalaman, kedua kita punya network dari pekerjaan sebelumnya dan ketiga kita bisa mengaplikasikan apa yang telah kita dapatkan. Jika dianalogikan, pensiun dini bagaikan pesawat terbang yang sudah take off sehingga mampu melesat dengan cepat. Dalam dunia militer, pensiunan jenderal bisa mempunyai perusahaan dan menjadi komisaris karena memang sudah dipersiapkan. Atau pensiunan bankers mendirikan BPR karena memang memiliki skill yang baik. Yang dulunya bekerja, setelah pensiun jadi mempekerjakan.

Bicara pensiun dini jangan berpikir bahwa kita tidak punya modal karena saving kita yang utama adalah diri kita, network dan pekerjaan kita yang memang menjadi sebuah tantangan.

Kebanyakan orang yang melakukan pensiun dini adalah pegawai negeri yang notabene masih memperoleh uang pensiun. Bagaimana dengan orang yang bekerja di institusi swasta yang setelah pensiun tidak punya gaji lagi? Apa saja yang perlu dipersiapkan jika berencana untuk pensiun dini ?

Yang pertama, pensiun terjadi baik di institusi pemerintahan maupun swasta. Dan jangan membayangkan bahwa di swasta tidak ada dana pensiun karena saat ini sudah mulai banyak dikembangkan. Jika kita telah bekerja selama puluhan tahun, pasti ada dana pensiun buat karyawan. Pensiun sekali lagi bukan suatu hal yang menakutkan. Kita coba menghitung dari sekarang, jika nanti pensiun kita punya dana sekian. Kita juga harus bisa merencanakan karena justru setelah pensiun kebutuhan akan semakin banyak. Ada kebutuhan sekolah anak, juga kebutuhan sosial yang lebih tinggi karena sudah mulai dikenal.

Untuk mengantisipasi agar pensiun tidak menjadi malapetaka, hitung saving kita selama kita bekerja agar bisa terpetik hasilnya. Pertama saving secara finansial, kedua secara relasional yaitu kekuatan jaringan kita. Dua hal tersebut dapat dicreate agar pasca pensiun akan menjadi keberuntungan sesuai dengan bidang kita. Jika sebelumnya bekerja di percetakan, maka bisa mengembangkan bidang percetakan dengan sebaik-baiknya, karena kita jauh lebih ahli dibandingkan dengan yang kuliah di percetakan. Ciptakan uang karena hal tersebut sah-sah saja. Bahkan banyak yang bekerja di perusahaan swasta memilih untuk pensiun dini atau keluar sebelum saatnya tapi punya networking kuat yang menjadi aset tak ternilai. Terkadang karena biasa bekerja profesional sering terkesan sungkan bila harus nego secara ekonomi, karena biasanya yang nego adalah top management-nya.

Setelah pensiun dini, kita bisa menjadi seorang enterpreuner dan menjalin relasi untuk kepentingan ekonomi atau bisnis. Ada satu petuah “Jika Anda berjalan di hutan dan menemui dua cabang jalan, maka Anda akan memilih jalan yang mana. Jika Anda memilih jalan yang belum pernah atau tidak biasa Anda lalui, maka di situlah Anda merubah diri Anda segalanya” yang maksudnya tantangan. Anda jangan lewat jalan yang biasa Anda lalui. Spirit ini menunjukkan keberanian melewati jalan baru di hutan dengan penuh keyakinan karena kita sudah punya sedikit modal.<