You are here: News Release Articles Makna Sukses Individu

Makna Sukses Individu

E-mail Print

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan sukses?

Sukses bisa dikategorikan sesuatu yang sangat besar atau sesuatu yang sangat kecil. Sesuatu yang sangat besar misalnya sukses dalam kehidupan kita, yang bisa dibuktikan setelah kita selesai hidup, misalkan si X itu sukses lho. Artinya setelah kita meninggal, kesuksesan kita dibuktikan dengan apa yang orang-orang katakan terhadap diri kita. Perkataan orang tersebut sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan dan sudah sesuai dengan yang diinginkan Tuhan pada saat menciptakan kita atau belum. Kesuksesan tersebut tergolong sukses besar yang jangkanya panjang sekali atau disebut sebagai sukses hidup.

Kemudian sukses yang kecil misalnya sukses mandi. Itu sepele sekali, tetapi kita sering melihat orang tidak sukses mandi, entah tidak bersih atau mandi yang seharusnya menghabiskan waktu hanya lima menit bisa sampai lima jam. Atau semisal pulang dari bekerja sampai rumah jam 12 malam kita harus mandi, kalau kita menunggu sampai air panas mungkin kita sudah ngantuk. Tapi ketika kita bisa mandi lima menit tanpa harus merasa kedinginan, inilah salah satu kiat mandi yang sukses.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sukses itu kesempurnaan. Ya, kesempurnaan mencapai suatu sasaran (goal). Istilahnya kita main bola kalau bola kita masuk ke kandang lawan itu suatu tujuan, tapi kalau bola masuk ke gawang itu sasaran, jadi baru sukses. Maka sukses itu ada sukses menurut individu dan sukses menurut orang lain.

  • Tahapan-Tahapan dalam Sukses

sukses yang paling mendasar itu adalah sukses survivetif/survive.. tahapan kedua sukses yaitu sukses inovatif... tahap yang ketiga kita harus sukses kualitatif

Setiap orang yang sampai detik ini masih hidup itu sebenarnya sudah bisa dikatakan sukses, sebab sukses yang paling mendasar itu adalah sukses survivetif (survive). Ia masih bisa hidup dan bernafas, kenapa? Karena ternyata sampai detik ini kita, misalkan saja masih bisa hidup pada umur 20 tahun. Ini berarti kita sudah dan sedang menjalani proses hidup yang panjang sekali. Mulai dari saat sel sperma memperebutkan satu sel telur, itu sudah perjuangan luar biasa. Itu sukses paling awal, itu sukses lahir. Kadang kita berpikir orang yang lahir caesar itu sukses lahir padahal menurut buku-buku, justru itu yang tidak sukses, karena tidak normal. Dengan demikian kita sebetulnya sudah agak gagal, hanya saja orang lebih suka menganggap yang lahir caesar adalah orang kaya. Padahal tersebut hanya trend saja dan menurut kesehatan tidak sukses karena bagi si bayi sendiri justru melewati lubang yang sangat sempit dan full kuman sehingga terjadi imunisasi secara alamiah adalah keistimewaan tersendiri.  Sakit jelas.., tapi kalau kemudian meninggal...ada unsur susah juga. Jadi lahir saja sukses, kemudian belajar menguap atau bayi garuk-garuk saja, maka bisa kita kategorikan sudah sukses juga.

Setelah sukses survive kemudian ngapain? Ternyata banyak orang yang menganggap sudah hidup, ya dijalani saja. Ternyata kalau kita hanya menginginkan kita sukses hidup, ya... sampai di situ sudah cukup. Tahapan kedua sukses yaitu sukses inovatif. Setiap orang seharusnya punya inovasi tertentu yang bisa meninggalkan atau menorehkan satu hal yang positif di tempat kerja, keluarga atau di lingkungan. Jadi ada inovasi yang dia munculkan, berdasarkan kreativitas.

Jika sukses kedua ini dapat terwujud, kita dapat dikatakan lain dari yang lain. Contoh sederhana sukses inovatif adalah kalau kita lihat Tirtomoyo (ini bukan iklan) sukses sekali dengan “aqua”nya. Bisa kita bayangkan, dia bisa membuat orang mau minum “Aqua” padahal kalau disurvey secara marketing mungkin tidak ada yang mau membeli air 1500 per liter. Ternyata semua sopir minumnya Aqua, ini sukses inovatif yang luar biasa. Dari PAM mungkin dia belinya air, satu meter kubik Rp.1.000,00 tapi dia jual menjadi satu juta lima ratus rupiah. Jadi untungnya banyak sekali.

Tahapan yang ketiga setelah kita inovasi, biasanya orang akan meniru apa yang kita lakukan (imitasi). Hampir semua kesuksesan yang berasal dari inovasi yang berhasil, kemudian ditiru oleh orang lain. Seperti air minum Aqua. Saat sekarang ini sudah ada air minum dalam kemasan dari “A” sampai “Z”, dari “A”qua, “A”quaria, sampai “Z” am-zam.

Setelah secara inovatif sudah kita munculkan, karena kemudian ditiru orang maka tahap yang ketiga kita harus sukses kualitatif. Jadi kita tetap akan menjadi leader di antara orang-orang yang meniru. Mungkin nanti Radio Salma merupakan radio satu-satunya sebagai radio muslim. Oo..ternyata sukses, kemudian kita ditiru. Inovasi radio satu-satunya di Klaten ini kemudian ditiru. Kalo Radio Salma tidak meningkatkan kualitas maka akan ketinggalan dan tidak survive seperti dari awal lagi.

  • Cara Untuk Kita Sampai di Tahap Kualitas

Memaknai sukses kualitatif mau tidak mau kita harus belajar dari lingkungan dengan cara  misalnya kita kembangkan all and die; use a serve development; survey pasar, survey keinginan pasar, kemudian pengembangan produk supaya tidak turun kualitasnya. Seperti contohnya Aqua tadi, dia akan selalu inovasi dan sampai sekarang dia menggandeng “danone” ya, perusahaan dari luar sehingga dia biasa go internasional.

sukses kualitatif individu ini bisa dikatakan be your self, jadilah dirimu sendiri. Tapi harus diikuti menjaga kualitas diri kita dan inovasi

Itulah gambaran yang mudah diterima dari contoh kegiatan  bisnis. Lantas, di dalam kegiatan sehari-hari, kita sebagai pribadi bagaimana? Bagaimana nanti bisa diterapkan di kehidupan bermasyarakat? Sukses kualitatif individu ini bisa dikatakan be your self, jadilah dirimu sendiri. Tapi harus diikuti menjaga kualitas diri kita dan inovasi. Dengan cara tersebut, kita belajar dari lingkungan sekitar dan kemudian menyesuaikan.

Jadi dengan ada gejolak seperti ini, bagaimana kita bisa kita memanfaatkan gejolak tersebut meski mungkin kata orang gejolak itu kadang merugikan tapi kalo kita pandai-pandai bisa jadi peluang.

Selanjutnya kalau sudah pada tahap kualitatif, kita tinggal meningkatkan terus, karena kualitatif tidak ada batasnya. Seperti kita sendiri, secara individu Sudahkah berkualitas? Siapa kualitas manusia di seluruh Indonesia ini yang paling baik? Saya kira susah sekali. Mau menunjuk calon presiden, susah, ketua RT, juga susah.

  • Terhadap Fakta Hidup Bagai Roda Berputar

Kalau sudah tahap kualitatif ini, kita sudah berada di atas dan kita tinggal menjaganya. Tetapi terkadang di dalam hidup ini kita berada di atas, tapi bisa kemudian kembali lagi di bawah. Apakah itu artinya kita sudah tidak sukses lagi?.

Memang kalau sudah mencapai tahap kualitas, tugas utama kita adalah tinggal mempertahankan kualitas terus menerus dan meningkatkannya. Tapi arogansi kita sebagai manusia kadang-kadang lupa, kalau kita sudah di atas menganggap semua orang itu tidak penting, lebih tidak baik dibandingkan kita. Kemudian menjebak kita hingga akhirnya turun ke keadaan kita tidak survive.

Jadi keangkuhan dan kebanggaan kita membuat “tidak ada” yang mungkin memberitahu kita, “tidak ada” yang menegur kita. Nah, sikap kearogansian itulah yang memungkinkan kita untuk turun ke tahap survive lagi.

  • Memanfaatkan Sumber Daya

yang pertama adalah penampilan/fisik, kemudian yang kedua yaitu kecerdasan kita.. yang ketiga adalah emosional... yang ke empat yaitu informasi.. kemudian waktu.. untuk yang selanjutnya yaitu energi. Selain energi ada keuangan

Untuk mencapai sukses pada sasaran yang kita inginkan, kita juga harus bisa memanfaatkan sumber daya yang mungkin sudah terberi oleh Yang Maha Kuasa kemudian kita bisa meningkatkan apa yang sudah diberikan. Apa sih sumber daya yang pertama kali yang harus kita manfaatkan? Yang pertama orang tetap akan melihat secara fisik atau penampilan. Kadang-kadang saya menemukan ... penampilan saya tidak penting, yang penting orang tahu saya pinter!!.

Dalam hal ini sumber daya yang akan dibahas adalah manusia dulu, karena arahannya adalah suksesnya individu kita. Nanti kalau memang sudah oke berkembang pada organisasi atau sumber daya bisnisnya.

Sumber daya individu atau fisik meliputi penampilan dari ujung rambut sampai kaki kita akan dilihat oleh orang lain. Jadi orang lain bisa dianalogikan sebagai kamera yang men-shoot aktor atau aktrisnya (= dalam hal ini kita).  Jadi mau tidak mau suka tidak suka kita akan dilihat orang lain, mata orang lain adalah kamera. Sehingga penampilan seperti apa yang sesuai dengan keinginan kita? Mau di-image atau dicitrakan seperti apa kita ini? Kenapa kita mau memakai busana yang baik dan sopan?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah karena orang akan melihat kita, Ooo…dia itu perempuan yang sopan to.. Penampilan tetap nomor satu, walaupun kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan saja, karena terkadang penampilan menipu. Tapi nyata adanya bahwa setelah survey penampilan akan berpengaruh sekali, contohnya seorang aktor. Dia hari pertama berdiri di mall kemudian dia pakai jas, tas kulit, kemudian dia minta tolong dan mengatakan aduh saya tidak bisa pulang kantor dompet saya dicuri orang... Nah ternyata orang yang datang atau lewat yang dimintai tolong akan memberikan uang banyak, tidak mungkin ia ngasih seratus perak.

Jadi hari pertama penampilan seperti manager. Kemudian hari kedua dia berpenampilan seperti mahasiswa, ia pakai jeans, sepatu kets, rangsel, kemudian juga minta tolong tetapi dengan cara  Aduh, uang saya ketinggalan saya tidak bisa pulang ke kost atau ke kampus.... Ternyata orang memberinya biaya naik bis, kalau yang tadi biaya naik taksi, sekarang bis saja, seribu gitu. Kemudian hari ketiga. Hari ketiga berupa pengemis, yang penampilannya sangat-sangat kotor kemudian compang-camping. Dia berdiri di situ juga dan minta-minta ternyata orang memberikannya seratus perak saja.

Artinya dalam sehari dia hanya mengumpulkan beberapa ratus atau beberapa ribu saja. Artinya apa? Penampilan ternyata sangat berpengaruh terhadap penilaian orang lain. Orang lebih cenderung suka menolong orang yang kelihatannya tampil lebih menarik. Mengapa demikian? Secara alamiah memang begitu yang terjadi. Punya teman yang menarik dengan yang tidak menarik, mungkin akan lebih bangga punya teman yang menarik.

Maka perhatian yang pertama adalah penampilan atau fisik, kemudian